Bagi orang awam, setelan jas hanyalah pakaian—gabungan antara fungsi dan bentuk. Namun bagi Kris—pendiri Light Source Couture dan generasi penerus berikutnya dari Aoshi Group—setelan jas adalah sebuah simfoni yang terdiri atas lebih dari 3.000 jahitan teliti, sebuah bukti nyata atas struktur, estetika, dan ketahanan. Pemahaman ini tidak diperoleh dari buku teks, melainkan ditempa melalui garis keturunan dan tanah kelahiran. Meskipun tumbuh besar di rumah keluarganya di Zhejiang, jiwa profesionalnya dibentuk oleh dentang berirama dan tak henti-hentinya mesin jahit di pabrik pamannya di Shandong. Suara konstan dan berulang itu menjadi soundtrack latar masa kecilnya, lalu berkembang menjadi metronom yang membantunya memahami denyut nadi manufaktur. Fasilitas tersebut—Shandong Aoshi Garment—sendiri merupakan lambang kisah lintas generasi, muncul dari transformasi perusahaan milik negara pada akhir abad ke-20. Di sanalah, di tengah kelembapan panas uap penekan, sentuhan serat wol halus yang melayang di udara, serta sosok tenang dan penuh konsentrasi para pengrajin ahli, ia menyerap pelajaran profesional pertama dan paling abadi: "Mode berubah mengikuti musim, tetapi kualitas adalah satu-satunya mata uang yang bertahan abadi." Kini berusia 29 tahun, Kris membawa perspektif era digital dan ketajaman global ke dalam warisan manufaktur yang mendalam ini. Saat ini, Light Source Couture—sebagai pelopor pasar internasional—secara strategis bermarkas di Suzhou. Identitasnya berbeda dari basis produksi di Shandong, namun tak terpisahkan darinya melalui ikatan darah, kepercayaan, dan standar bersama. Secara esensi, kami adalah sebuah jembatan yang direkayasa secara cermat—menghubungkan kapasitas produksi masif, disiplin kerajinan tangan, serta ketelitian akar manufaktur utara kami dengan kecanggihan kelas dunia, dinamisme inovatif, serta wawasan terdepan di garis depan pasar dari rantai pasok Delta Sungai Yangtze.